Pencerahan aja…Met Merenungi Nasib!

PENCERAHAN AJA…MET MERENUNGI NASIB!

Thanks and Regards,

Soraya Lannazia
—– Forwarded by Soraya LANNAZIA/CCR IMO/HBAP/HSBC on 04/28/2008 09:31 AM —–

"Tampubolon, Melvi Kartikasari " <melvi.kartikasari.tampubolon@citi.com>
25 Apr 2008 15:02 Mail Size: 53014
To
cc
Subject FW: Membeli masa depan…



Our Ref
Your Ref


GOOD POINT…

Membeli Masa Depan

Di Singapur sini kita bisa nonton RCTI dan SCTV. Di suatu malam gua
lagi memindai channel dan melihat sebuah iklan yang menggugah. Iklan
itu adalah
iklan dari tabungan rencana Bank Mandiri.

Adegan pertama: Ada anak kecil lari-lari keliling meja makan. Di meja
makan itu, ada pasangan muda meminjam uang ke orang tua mereka dan
ada insert tulisan
"Untuk biaya masuk SD".
Di akhir adegan itu, kita melihat liontin emas ibu muda.

Adegan kedua: pasangan tersebut sudah terlihat lebih dewasa dan sang
ibu melepaskan liontin emas itu dengan muka urung. Insert:
"Untuk biaya masuk SMP"

Adegan ketiga: Anak itu sudah dewasa, membuka garasi dan anak itu
murung melihat garasi mereka kosong. Sang bapak keluar dengan vespa.
"Untuk biaya SMA".

Adegan ini diakhiri dengan sang bapak hujan-hujan pergi kerja naik
vespa, di depan rumahnya ada tulisan "rumah dijual" insert:
"untuk masuk kuliah"

Ini adalah satu iklan yang sangat-sangat kuat. Hati gua belum
pernah ngerasa terenggut melihat sebuah iklan. Bener banget.

Life is not a game. You can’t restart your life. Once you make a
mistake, that’s it. You’re done. Apalagi hidup di Indonesia yang jujur
saja, sangat unforgiving.

Hidup untuk Masa Depan

Iklan di atas sempat membuat gua tidak tenang melihat apa yang sudah ada
di tangan. Bener
kata temen-temen yang komentar di bawah bahwa kalo kita takut, kita
tidak akan pernah merasa cukup dan akhirnya menghabiskan waktu kita khawatir
ketimbang bersyukur.

Kita itu (seharusnya) hidup untuk masa depan. Bokap gua pernah ngasih
tau statistik di bawah:
5 dari 10 pensiunan hidup bergantung pada anak dan kerabat
2 dari 10 pensiunan masih harus kerja unutk membiayai sisa hidupnya
1 dari 10 pensiunan punya uang pas-pasan untuk mandiri setelah pensiun
1 dari 10 pensiunan punya uang berlebih di saat pensiun

Mengerikan ya? Dari yang gua lihat dalam hidup, memang begitu.
Sebenernya bukan karena kita miskin-miskin amat sih tapi kita itu
sering belanja hal-hal yang kalo dipikir baik-baik, gak perlu.

Sekarang gimana caranya kita pensiun dengan baik? Dan di atas
itu, membekali anak dengan pendidikan yang cukup? Iya kalo anaknya satu.
Kalo 3?

Satu lagi ungkapan yang gua pernah dengar yang sangat-sangat memotivasi
gua untuk nabung:

Kecil, gak nyusahin orang tua
Tua, gak nyusahin anak

Iya kalo anak kita sukses. Kalo gak sukses kan kasian dia.
Mencukupi dirinya sendiri aja mungkin susah, apalagi nalangin kita?
Masa muda anak kita adalah masa dia mencari penghidupan untuk mensecure hari tua
dia, bukan hari tua kita.

Nah gua mau share sesuatu di bawah. Bukan karena gua sukses
melakukannya, atau telah berhasil menyelesaikannya. Tapi gua pengen aja
sharing karena penting untuk diketahui dan semoga memberikan insight yang baik bagi
yang belum tahu.

Tentukan gaya Hidup Kita

Di umur 30 ini gua belajar begini: gaya hidup itu menentukan survivality
kita di hari tua. Maksudnya gini:

Ini skema hidup keluarga A
Gaji = 100%
Living cost yang kita jalankan selama ini = 80%
Tabungan = 20%

Guess what? Setelah pensiun nanti, A akan kesulitan mengadjust
gaya hidupnya karena setelah pensiun, dia gak punya atau punya sedikit
income. Dan dia harus hidup berbiaya 80%. Tapi masalahnya dia cuman punya
20%. Mending kalo 20% ini bisa nutupin basicnya, kalo nggak gimana?

Jadi yang perlu kita tentukan sekarang adalah bagaimana gaya hidup
yang kita inginkan dan berapa yang ingin kita tabung.

Basic Consumption & Life style

Persentase di atas tidak linier. Maksudnya, orang yang
penghasilannya rendah akan mencak-mencak melihat persentase di atas
karena memang ada biaya hidup pokok minimal. Mungkin bagi orang yang penghasilannya 20
juta setahun, persentase di atas gak jalan. baca: minimum living cost
katakanlah 10 juta setahun. Jadi mending persentasenya kita kembalikan aja pada
diri masing-masing.

Yang berusaha gua jelskan di sini adalah, living cost itu ada dua
komponen.

Living cost = lifestyle x basic consumption.

Contoh, orang sama-sama butuh mobil ke kantor. Yang satu beli mobil
second, yang satu beli Alphard. Orang sama-sama butuh dinner. Yang satu
sering dine out, yang satu masak. Orang sama-sama butuh tas. Yang satu beli satu 60
juta, yang satu 600 ribu.

Basic consumption semua orang sama. Tapi yang membuat living cost
kita berbeda adalah gaya hidup kita. Apa beli tas mahal salah?
Nggak kok.
Terserah, gua gak ngejudge. kalo memang mampu ya by all means, beli
aja. Hanya saja, di kebanyakan kasus, gaya hidup kita lah yang
membuat living cost tinggi. Bukan basic consumptionnya.

Bagi pembaca yang tergerak untuk menerapkan hal yang sama, harap
diingat bahwa makin banyak anak, ya gajinya makin terbagi kecil. Bisa
jadi seperti
ini:

45% cost
35% pensiun
10% anak 1
10% anak 2

45% cost
30% pensiun
8% anak 1
8% anak 2
8% anak 3

Masalahnya dengan skema ini adalah, skema ini tidak berlaku pada
keluarga yang incomenya terlalu kecil. Gua pernah bergaji sangat
kecil dan bahkanuntuk menghidupi diri gua aja susah.

Automate your Savings

Sekarang kita udah menentukan gaya hidup kita dan bertekad
menabung beberapa % income kita. Next step? Kebanyakan orang, termasuk
gua, gak bisanabung. Beberapa orang bikin channel tabungan. Termasuk gua. Gua gak
tau apakah ini manjur karena resultnya kita lihat 25 tahun lagi tapi
setidaknya ini yang gua percaya dan gua lakukan.

Setelah menentukan berapa yang harus ditabung, kita otomatisasikan
tabungan kita. Manusia itu pada dasarnya susah nabung. David Bach
dalam bukunya
‘Automatic Millionaire’
mengatakan bahwa semua pemerintah di dunia
ini langsung otomatis motong pajak dari gaji kita karena mereka tau
kita suka lupa bayar pajak. Hal yang sama kita terapkan saja pada diri kita.

Kita bisa request ke bank agar setiap tanggal 1, gaji kita dipotong ke
Tabungan pensiun kita, ke tabungan pendidikan anak kita dan ke mana saja yang
kita mau. Akhirnya yang ada di tabungan utama han
yalah sisa untuk
living costkita.

Jadi di awal bulan, yang pertama kita amankan adalah masa depan
kita, bukan masa depan mango, zara atau honda jazz kita. Kalo tidak
dipagari seperti ini, kecenderungannya adalah habis. Untuk ini, gua
rekomendasikan banget buku David Bach ‘Automatic Millionaire’

Security

Oke, sekarang ada tabungan pensiun. Bagus. Eh besok kita ditabrak
bus. Pupuslah harapan anak untuk terus sekolah. Istri juga
kalo gak berpenghasilan bisa repot. Yang tadinya kita bermimpi anak kita
bisa sekolah di universitas top indonesia, jadi bisa gak kuliah sama
sekali.

Dan tahukah kita bahwa statistik membuktikan bahwa rata-rata suami
meninggal 6 tahun lebih cepat dari istrinya? Dari sini datanglah
pentingnya asuransi.

Gimana cara milih asuransi yang baik? http://priyadi.net sudah
membahasnya dengan baik. Mending baca di sana. Di sini, gua cuman
pengen sharing apa yang gua tau (yang mana sedikit),
agar mungkin temen-temen bisa untung dari sini.

Yang jelas, menentukan asuransi itu sebaiknya gini:

Uang pertanggungan = living cost / tahun x 20 tahun (atau terserah
mau berapa tahun).

Dengan formula ini, maka jika kita meninggal, insya Allah keluarga kita
dapat hidup selama 12-20 tahun. Lho kenapa gak full 20 tahun? Karena
inflasi. Living cost tahun 2008 mungkin 4 juta. Di tahun 2020 bisa jadi
10 juta.

Masalahnya, makin tinggi uang pertanggungan, makin tinggi premi
pertahunnya. Untuk itu, menentukan nilai asuransi ini juga harus bijak
dan harus dalam kemampuan kita juga. Misalnya kita tabung 40% gaji. Kita
split 40% ini jadi 10 dan 30.

30% pensiun
10% insurance
Toh keduanya sama-sama berbunga kok.

Dulu asuransi ini sepi peminat karena asuransi tidak melink dana kita ke
investasi. Yang ada, uang kita menyusut tanpa bunga. Mending taro di
bank.

Gitu pikiran banyak orang. Sekarang unit link ini menjadi buruan banyak
orang. Gua dulu alergi yang namanya memercayakan uang keringet gua sama
asuransi. Sekarang kenapa tidak? Not bad kalo gua bilang. Jika kepala
keluarga meninggal, kepala keluarga akan mendapatkan mana yang lebih
tinggi antara uang pertanggungan dan nilai investasi. Lumayan kan? Btw,

http://priyadi.net sih tidak menganjurkan. Tapi gua sih merasa aman
sekali dengan skema ini.

Invest

Musuh bersama adalah inflasi. Mau income kita 1 juta per bulan atau 100
juta, kita taro di bank, tetap aja kalah sama inflasi. Contoh:

Inflasi = 10%
Bunga bank = 2%
Tabungan kita = 1000
Harga telur 2007 = 1000
Harga telur 2008 = 1100
Uang kita 2008 = 1020
Tahun 2008 kita gak mampu makan telur.

Di sinilah pentingnya investasi. Instrumen investasi apa yang dipilih?
Beberapa sudah gua tulis di posting sebelumnya. Berapa yang mesti kita
invest? Nah ini tergantung dari seberapa ambisiusnya kita dalam hidup.
Yang jelas, ada beberapa pointers:

– asset & liability

Robert Kiyosaki dalam Rich dad poor dad bilang "rich dad buys assets.
Poor dad buys liability". Ini bener banget. Banyak sekali orang tua
yang menghabiskan uang 200 juta membelikan anak mereka mobil. Masalahnya,
mobil itu mengalami penyusutan 20% per tahun. Harganya tahun depan
langsung 180 juta. Umur mobil juga 5 tahunan. Itu bukan aset. Itu liability.

Kalo memang ingin memberikan anak 200 juta, kenapa gak belikan dia rumah
susun? Atau BTN? "Nak, ini ayah belikan rumah 1 bukan untuk ditempatin.
Sana kamu kontrakin dan uangnya buat kamu tabung." Rumah, di 80% kasus,
adalah aset.

Aset adalah sesuatu yang memberikan kita return. Yang kalo kita jual
lagi, nilainya bertambah dan memberikan kita proft.

Liability adalah sesuatu yang setelah kita beli, nilainya susut. Yang
kalo kita jual lagi, kita mendapatkan loss.

– Biggest & Most Basic Investment

Hal pertama yang harus disukseskan dalam investasi, dan ini yang gua
setuju ya, terserah kalo gak setuju, adalah rumah. Direkomendasikan
untuk rumah sendiri. Jangan sampe ngontrak seumur hidup.

Di kala kita ngontrak, kita membuat orang lain kaya
tanpa memberikan kita hak kepemilikan. Bisa-bisa
setelah pensiun, kita gak punya penghasilan untuk membayar
kontraknya. Setelah itu mau tinggal di mana?

Kalo kita cicil rumah, sejelek apa pun rumah itu, rumah itu adalah
hak milik kita. Tidak ada rasa aman yang lebih baik dari pada memiliki
rumah tempat kita tumbuh tua nanti.

Kalo nggak gini, kasian anak. Mereka nanti nikah dan butuh ruang, waktu
dan energi untuk membangun keluarga kecil mereka. Kalo kita tinggal
bersama mereka, kasian. Memang di kebanyakan kasus, orang Indonesia menganut
kebudayaan orang timur di mana:

Ketika kita kecil, mereka merawat kita.
Ketika dia tua, kita merawat dia.

Ini sebabnya banyak sekali temen gua yang bungsu yang bersikeras gak mau
keluar rumah. Kasian ninggalin ibunya. Si bungsulah yang bayarin
listrik, air, kabelvision dll.

Ini sebabnya banyak temen gua yang sering bilang "Udah, mamah di sini
aja sama saya"

Semua itu bagus. Semua itu mulia. Semua itu dianjurkan agama. Tapi semua
itu adalah cerita temen-temen gua yang mapan secara finansial dan
berniatmengembalikan budinya. Temen-temen gua yang kesulitan finansialnya?
Well, beda cerita.

Setidaknya di mata gua, sebagai anak yang baik, harus selalu siap untuk
menampung orangtua. Itu harus. Bokap gua menyisihkan 25% gajinya selama
belasan tahun untuk hidupi orangtua dia.

Tapi sebagai orangtua yang baik, rasanya gak tega ngeliat anak ngerawat
kita sementara dia bisa menghabiskan waktu muda dia mengejar
impian-impian.

Makanya, invest your money. Nah sekarang pertanyaan, berapa yang mesti
kita investasikan dari income kita? Sekali lagi, terserah.

Tadi di atas sudah ada ini:
30% pensiun
10% insurance

Kenapa nggak,
10% atau 20% pensiun
10% insurance
20% atau 10% investasi

Ingat aja, makin kecil uang yang disisihkan untuk investasi makin lambat
investasi itu bisa berbuah. Kalo sisihan untuk invetasi terlalu kecil,
ditakutkan malah gak pernah terwujud impiannya. Contohnya, mau beli
emas batangan. Tapi harganya naik lebih cepat ketimbang jumlah uang yang
kita sisihkan perbulannya. Yang ada kejar-kejaran.

Sekali lagi, instrumen investasi sudah gua tulis di postingan sebelumnya
dan juga banyak terdapat di blog ttp://
priyadi.net

Hutang
Disarankan untuk jangan punya hutang, kecuali hutang itu untuk membeli
rumah perdana dan itu pun jangan terlalu banyak. Banyak orang yang
bermimpi memiliki rumah megah dan bersikeras beli cicil. Masalahnya,

Rumah gede = biaya maintenance gede
Rumah gede = cicilannya puluhan tahun

Temen gua ada yang lumayan jenius. Dia beli rumah kecil, 5 tahun lunas.
Sementara 5 tahun itu dia juga nabung dengan istri. Setelah lunas
ternyata mereka punya cukup tabungan untuk nyicil rumah ketiga yang lebih baik.
Rumah pertama mereka kontrakin dan mereka tinggal di rumah cicilan
kedua. Sebentar lagi meeka akan melakukan yang ketiga.

Ada lagi kasus yang lumayan miris. Rumahnya terlalu besar tapi gajinya
terlalu kecil, sehingga dia butuh 20 tahun
untuk lunasin. Itu semua
gajiu habis hanya untuk rumah. Jujur aja, kalo cicilan sampe 20 tahunan, yang
ada kita bayar rumah itu 2x harga beli kita. 2 kali! Itu sama dengan
kita beli 2 rumah! Tapi ini nggak. Akhirnya orang itu pensiun tanpa sempat
menggunakan uangnya untuk investasi.

Intinya, hutang itu boleh tapi terbatas dengan:

pembelian aset

pastikan beli rumah yang sesuai dengan gaji kita. Jangan ngoyo.
pastikan cicilannya tidak terlalu banyak sehingga kita masih punya
umur produktif untuk investasi yang lain juga.

Again, ini hanya dari pengalaman dan observasi pribadi gua. mungkin
pembaca yang berwawasan lebih, boleh kasih input. Biasanya syarat
umum Bank di Indonesia adalah: uang cicilan = 1/3 dari income gabungan suami istri.
Kalo gitu, skemanya jadi berubah:

45% cost
33% cicilan rumah
8% anak 1
8% anak 2
6% insurance atau investasi atau pensiun

Skemanya terserah tapi kita bisa lihat bahwa semua komponen itu penting.
Dan bisa kita lihat juga bahwa adanya cicilan rumah benar-benar memotong
keleluasaan kita dalam berinvestasi kan. Dan bahkan untuk cicil rumah,
bukan gak mungkin kita harus memotong biaya hidup jadi lebih kecil dari
45%. Makanya cicilannya jangan terlalu lama dan telalu besar.

Metode Yang Beda
Metode di atas hanyalah 1 dari jutaan metode yang kita bisa jalankan.
Contoh metode lain adalah:

1. 5 tahun pertama konsen beli rumah
2. 5 tahun kedua konsen nabung buat investasi
3. 5 tahun ketiga konsen nabung pensiun

Beberapa temen gua malah hanya bergantung pada jamsostek untuk pensiun.
Uang bebasnya semuanya dia investasikan di rumah kedua dan bilang "Ya
Ini sapi pensiun gua." Agar nanti kalo udah pensiun, uang kontrakan rumah
itu dapat nyambung hidup dia.

Upside

Dengan cara seperti ini, orang biasanya lebih cepat mendapatkan
masing-masing target. 55% gaji dia dimasukin untuk investasi. Dengan
modal sebesar ini, returnnya juga bisa besar dan lebih cepat. Sound good. Tapi
ada kelemahannya.

Downside

Kalo misalnya pas lagi ngejar lunasin rumah, kepala keluarganya
meninggal, gak ada dana back-up dong.

Kalo misalnya pas 5 tahun investasi ternyata reksadana crash, habis
semua uang. Kalo 5 tahun nabung dollar ternyata dollar jadi 2000 perak,
the end. Lenyap udah itu semua.

Kalo misalnya keasikan beli rumah dan investasi, bukan gak mungkin kita
telat nabung buat pensiun. Kenapa sih pensiun itu penting meski sudah
ada investasi yang berbuah?

Karena kita tidak bisa memprediksi masa depan. Kita bergantung sama 3
rumah kontrakan. Suatu hari 2 dari 3 digusur.

Intinya sih keuntungan dari diversifikasi adalah kalo kita sial di satu
hal, kita masih bisa bergantung dengan hal lain. Memang gak banyak, tapi
itu safe. Kerugian diversifikasi adalah menunggu semuanya berbuaha
bisa belasan tahun. Gimana nggak? Secepat apa kita bisa memperbaiki
taraf hidup kalo kita hanya mampu sisihkan gaji 2% untuk investasi?

Semuanya dikembalikan ke masing-masing lah. Gak ada yang benar dan
salah. Gua yakin semua sudah mikir, skema apa yang selama ini mereka
jalani dan gak defensif atau ofensif jika tidak setuju dengan
penjelasan di atas. Toh semuanya dikembalikan ke diri dan kondisi
masing-masing yang mana kondisi itu gak mungkin sama.

Gua sendiri menjalankan sebuah skema. Gua gak tau apakah skema itu akan
berhasil. Yang penting, kalo niatnya baik, ikhtiarnya giat, dan sabar
menghadapi cobaan, itu berarti kita sudah menjalankan skemanya dengan
benar.

Penutup

Yang jelas, gua berpegang sama proverb di bawah:

Kecil, gak nyusahin orang tua
Tua, gak nyusahin anak

Kita Sebagai Anak

Sadarkah kita kenapa orang tua naik haji di usia senja? Karena orang
tua kita ingin memastikan dulu kita mentas. Betapa mulianya ya mereka.

Sekedar sharing aja, temen gua dulu ada yang ngobat. Sekarang nyesel
seumur hidup. Dia nyesel karena sampai akhir hayat mereka sang orang tua
tidak pernah sempat menunaikan ibadah haji. Kenapa? Karena tabungan haji
mereka habis membayar rehab temen gua. Setelah sembuh mentas dan kerja,
hal pertama yang temen gua lakukan adalah haji dan mendoakan mereka.

Dari dia gua belajar untuk sebisa mungkin gak pernah nyusahin orang tua.
Kalo gak bisa sukses, minimal gua gak bikin mereka sedih.

Kita Sebagai orang tua

Tantangan tiap jaman itu beda. Dan semakin ke sini, semakin hebat. Dulu
bapak kita cukup dengan S1 dan dapat berkarir seorang diri membiayai
semua keluarga.

Jaman kita? Dibutuhkan suami dan istri untuk kerja mencukupi kebutuhan
hidup. Belum lagi kualifikasi sekarang banyak yang harus S2. Ambil
koran, baca bagian karir dan hiotung berapa banyak yang kualifikasi S2?
Chances are, many. Dan supply lulusan S2 pun banyak yang masih struggle
mendapatkannya (yang mana menjadi constant reminder gua untuk harus
sekolah lagi).

Jaman anak kita? Gak kebayang kan? Ini sebabnya pensiun itu sangat
penting. Anak-anak kita menghadapi apa yang tidak terbayangkan oleh kita
susahnya gimana. On top of that, mereka harus mencukupi diri mereka sendiri.
Memang gua yakin banget kita sebagai masyarakat timur, mereka pasti
tidak keberatan mengurusi kita. Masalahnya, kitanya tega gak?

Kecil, gak nyusahin orang tua
Tua, gak nyusahin anak



******************************************************************
This message originated from the Internet. Its originator may or may not be who
they claim to be and the information contained in the message and any
attachments may or may not be accurate.
******************************************************************

************************************************************
The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited
whose main office in Indonesia is at Jl. Jendral Sudirman Kav. 29-31, Jakarta 12920, Indonesia
************************************************************


*******************************************************************
This e-mail is confidential. It may also be legally privileged.
If you are not the addressee you may not copy, forward, disclose
or use any part of it. If you have received this message in error,
please delete it and all copies from your system and notify the
sender immediately by return e-mail.

Internet communications cannot be guaranteed to be timely,
secure, error or virus-free. The sender does not accept liability
for any errors or omissions.
*******************************************************************
“SAVE PAPER – THINK BEFORE YOU PRINT!”

12 thoughts on “Pencerahan aja…Met Merenungi Nasib!

  1. aku koq mengartikan lainsaat anak SD si ibu sudah bisa beli leontinsaat anak SMP si ibu sudah bisa beli vespasaat anak SMA si ibu sudah bisa beli rumahdan mungkin saat anak kuliah si ibu mau pindah ke real-estate mewah.

  2. arienarien said: bebeeeeeeeee.. buku aku masih di kamu yaaaaa..?? ;)kantor kamu udh pindah?

    iya sayangkuuuuuuuuuuuuuuuuumaapppppppppppppppp bgt nih!!!ketemuan sabtu-minggu yuks!kantor pindah ke serponghp gw masih no. esia yg sama yah!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s