Yusuf Islam (Cat Steven, english singer) “Belalah Saudaramu Saat Dia Zhalim atau Dizhalimi”

Ratusan kursi di dalam aula fakultas hukum Universitas Westminster, di jantung kota London, itu sebagian masih belum terisi. Di luar hujan dan dingin musim gugur Inggris memeluk dan mencengkeram orang-orang di jalan. Di dalam ruangan terasa hangat bukan saja karena pengatur suhu yang bekerja sempurna, tapi juga oleh salam dan pelukan sesama Muslim.

Beberapa saat sebelum acara pembukaan dimulai, pria itu memasuki ruangan konferensi sama sekali tidak dengan cara seorang bintang musik pop yang gegap gempita. Tenang dan tawadhu. Perawakannya sedang, senyumnya ramah tapi tertahan, bibirnya tak bosan mengucapkan ‘assalaamu’alaikum’ dan menyalami orang-orang.

Yusuf Islam adalah seorang Muslim Inggris yang paling dikenal dunia. Selain karena ia bekas penyanyi pop ternama di tahun 70-an, ia juga terus bernyanyi dan memproduksi lagu-lagu Islami sesudah memeluk Islam sejak 24 tahun yang lalu.

Yusuf juga menyelenggarakan empat buah sekolah. Salah satunya Sekolah Khusus Perempuan Islamia yang didirikannya di Brent, pinggiran London. Baru-baru ini sekolah itu dipilih oleh Liga Sekolah Nasional Inggris sebagai sekolah terbaik di kawasan itu. Album terbarunya berjudul Bismillah juga baru diluncurkan, dikerjakan bersama beberapa kelompok nasyid mancanegara seperti Raihan dari Malaysia dan Dawud Warnsby Ali dari Amerika Serikat.

Sahid beruntung berkesempatan menemuinya langsung di sela sebuah konferensi, karena berkali-kali dicoba menghubungi jadwalnya demikian padat, bahkan untuk sebuah wawancara singkat.

Pria yang sampai musim dingin tahun 1977 namanya masih Cat Stevens itu duduk di deretan kursi terdepan, tanpa melepas overcoat-nya yang berwarna kuning gading. Dengan seksama ia mengikuti pembukaan konferensi bertajuk ‘Mendalami Islamofobia’. Konferensi ini menyentuh tema yang sangat hangat, karena diselenggarakan di tengah ketegangan Barat-Islam sesudah serangan atas gedung WTC dan Penthagon di Amerika Serikat. Yang menarik, penyelenggara utama konferensi ini adalah Forum Menentang Islamofobia dan Rasisme (FAIR) yang diketuai seorang bangsawan kulit putih beragama Kristen Anglikan Sir Cyril Townsend.

Sesudah acara pembukaan usai, dan rehat kopi, Sahid mendekati Yusuf Islam. Ia sedang meminta dengan sopan kepada salah seorang panitia, agar penampang hijau yang bertuliskan pernyataan misi FAIR digeser sedikit agar persis menjadi latar belakang pembicara yang berdiri di podium. “Isinya bagus sekali, sayang kalau tidak kena kamera,” katanya.

Perkenalan dan percakapan kami berlangsung akrab, tapi sangat singkat, sampai ketika ia menyadari bahwa yang dihadapinya seorang wartawan. Hampir secara mendadak Yusuf yang berkacamata dan sebagian rambut, kumis, dan jenggotnya mulai kelabu itu memalingkan badan, dan menjauhkan dirinya. Ia lalu memanggil sekretarisnya bernama Majid agar mengatur apa-apa yang Sahid perlukan. Dari sekretarisnya diketahui bahwa Yusuf agak mengurangi bertemu wartawan jika tidak benar-benar penting. Berkali-kali sejak kejadian WTC ia diminta banyak media untuk diwawancarai, ia menolak. Tak ada penjelasan, mengapanya.

Jawaban dari pertanyaan itu rupanya sudah tertera di sebuah booklet berisi otobiografinya yang berjudul The Background Story: My Journey from Cat Stevens to Yusuf Islam. Buku tipis kecil itu dibagikan secara gratis di toko buku Masjid Regents Park, tempat ia mengucapkan syahadat untuk pertama kalinya. Di dalam buku itu ia mengatakan bahwa sebenarnya dirinya adalah seorang yang pemalu dan tertutup. “Bahkan kegemilangan saya sebagai bintang musik pop juga saya nikmati lebih banyak dengan diam,” tulisnya.

Selain itu, seakan mengerti kebutuhan setiap wartawan, Yusuf juga menulis berbagai pernyataan tentang isu-isu penting, seperti penyerangan 11 September, serangan terhadap Afghanistan, nasib anak-anak di medan perang, juga tentang isu bahwa dirinya tetap ingin dipanggil Cat Stevens. Berbagai pernyataan itu tersedia lengkap di beberapa situs internet resmi milik rumah produksinya Mountain of Light, maupun situs bertajuk namanya. Bahkan tersedia juga wawancara dalam bentuk MP3 (dengan suara aslinya) yang bisa diakses oleh siapa saja. Pendeknya, semua pertanyaan yang mungkin diajukan seorang wartawan sudah diantisipasi oleh ‘Sang Pemalu’ ini.

Namun begitu, betapapun ada tiga hal yang tak bisa dirasakan masyarakat lewat berbagai publikasi resmi itu: pertama, kehangatannya sebagai seorang da’i; kedua, sikap tertutupnya terhadap media massa sebagai seorang tokoh masyarakat; dan yang ketiga, jawaban spontannya ketika di dalam konferensi tadi Yusuf Islam ditanya tentang pandangannya mengenai Usamah bin Ladin, miliuner Arab Saudi yang berjuang melawan imperialisme Amerika Serikat.

“Bagaimana pandangan Anda tentang Usamah bin Ladin yang kini menjadi buronan nomor satu Amerika? Apakah ummat Islam harus membelanya, atau mendukung Amerika menangkapnya karena ia telah melakukan teror?” kata seorang penanya.

Tentu saja, sebagai seorang tokoh masyarakat minoritas di negeri Nasrani seperti Inggris Yusuf diharapkan memberi jawaban yang ‘moderat’ yang tidak menyulut ketegangan baru. Apalagi sebagian hadirin dalam konferensi itu Non-Muslim, termasuk beberapa tokoh politik dan tokoh agama lain seperti Rabi Yahudi dan Pendeta Nasrani. Tapi di lain sisi sebagai seorang da’i terkemuka, apapun yang dikatakannya akan sedikit banyak berpengaruh di kalangan ummat.

Namun hari itu Yusuf telah memberi jawaban sebagai seorang laki-laki Muslim sejati. Dengan tegas ia mengutip sebuah hadits yang pernah dinarasikannya di salah satu kasetnya berjudul The Life of The Last Prophet, sebuah biografi Rasulullah dalam bentuk audio. Hadits riwayat Muslim itu berbunyi begini:

“Belalah saudara(Muslim)mu di saat ia berbuat zhalim maupun di saat ia dizhalimi” kata Nabi.

Lalu seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, kalau saudara kami itu sedang dizhalimi tentu saja harus dibela, tetapi bagaimana kami ha
rus membela saudara kami yang sedang berbuat zhalim.”

“Cegahlah dia dari berbuat zhalim, begitulah caramu membelanya,” kata Nabi.

Yang di bawah ini bukan sebuah wawancara langsung dengan Yusuf Islam. Ia merupakan ramuan wartawan Suara Hidayatullah Wisnu Pramudya yang menemuinya di London, dari berbagai sumber yaitu: otobiografi ringkasnya, wawancaranya dengan seorang wartawan Inggris terkemuka John Toblar (1999), dan pernyataan-pernyataan resmi di situsnya, tentang isu-isu mutakhir dan perjalanan ruhaninya dari Cat Stevens menuju Yusuf Islam yang sangat menyentuh. Mudah-mudahan cukup bisa dinikmati oleh pembaca.

Mengapa Anda merasa perlu membuat pernyataan resmi tentang penyerangan ke Afghanistan di situs internet Anda?

Sejak kita mengikuti serangan bom di Afghanistan, kita juga menyaksikan meningkatnya angka kematian dan korban luka-luka juga kelaparan di kalangan anak-anak, wanita dan orang-orang tua, termasuk mereka yang mengungsi.

Ini harus membangkitkan kesadaran moral kita. Dengan seluruh teknologi yang ada, usaha untuk menangkap atau membunuh tersangka utama pelaku serangan teroris 11 September sudah berubah jadi tragedi kemanusiaan baru yang mengerikan.

Saya sedih sekali menyaksikan kematian mereka yang tidak berdosa terutama anak-anak. Seperti juga sebagian besar Muslimin ­yang dikejutkan oleh serangan 11 Septemberkita mengajak dunia juga untuk menolong rakyat Afghanistan ­anak-anaknya dan para pengungsi. Mereka adalah korban yang tak bersalah yang terjebak di dalam situasi yang tak bisa mereka kontrol. Banyak sekali di antara mereka yang bersama keluarganya pergi meninggalkan rumahnya tanpa tujuan yang jelas, dengan pakaian dan makanan yang sangat sedikit. Musim dingin sudah datang, mereka kedinginan, kelaparan, dan tak punya rumah.

Bagaimana pandangan Anda terhadap serangan WTC dan serangan balasan Amerika ke Afghanistan?

Saya sudah berulangkali mengatakan sejak WTC diserang, bahwa al-Qur’an menyatakan, “Barangsiapa yang membunuh seseorang kecuali (lewat sebuah proses pengadilan) sebagai hukuman bagi pembunuhan atau menciptakan kerusakan di muka bumi, sama artinya dia telah membunuh seluruh ummat manusia.”

Hal ini juga berlaku atas anak-anak Afghan maupun anak-anak Amerika dan anak-anak manapun yang merupakan keturunan Nabi Adam. Ingatlah, bahwa dua kejahatan tak akan pernah menjadi kebaikan, dan pembunuhan terhadap seseorang yang tak bersalah di muka bumi adalah kejahatan. Landasan moral yang kokoh telah hancur oleh aksi-aksi (baik serangan New York maupun atas Afghanistan) seperti itu.

Lalu apa yang akan Anda lakukan?

Saya dan seperti juga banyak orang lain serta organisasi dari seluruh dunia menolong korban-korban serangan WTC ­tapi kita juga harus melakukan hal yang sama kepada korban-korban di Afghanistan karena merekalah yang paling menderita secara berkelanjutan sesudah semua ini selesai.

Sumbangan-sumbangan kecil sudah diberikan kepada keluarga-keluarga yang membutuhkan di Afghanistan tapi tidak banyak. Demi Tuhan, hentikan pemboman itu dan berikan anak-anak Afghan, banyak di antara mereka yang sedang sekarat, kesempatan untuk hidup.

Saya dulu pernah menulis sebuah lagi saat Perang Bosnia untuk anak-anak Sarajevo dan Dunblane di Skotlandia, mereka anak-anak sekolah yang tak berdosa yang telah dibunuh secara keji.

Bocah-bocah Mungil

Oh, mereka telah membunuh semua bocah mungil

Saat wajah mereka masih tersenyum

Dengan senjata dan kengerian mereka

Mereka hapus kehidupan remajanya

Tak ada lagi tawa

Tak ada lagi kanak-kanak

Oh, mereka telah membunuh semua bocah mungil

Saat wajah mereka masih tersenyum

Kini mereka mengubur bocah-bocah mungil

Dan menggali kuburan yang dalam

Sehingga dunia tak bisa melihat

Sehingga kita bisa tidur

Saat mereka mencuci darah

Para ibunda mereka semua menangis

Oh, mereka mengubur bocah-bocah mungil

Dan mereka menguburnya dalam-dalam

Ya, mereka mengubur bocah-bocah mungil

Dan mereka menguburnya dalam-dalam

Kemana setan-setan akan pergi

Saat Hari itu tiba?

Saat para malaikat menyeret mereka

Untuk menghadapi bocah-bocah mungil itu

Oh mereka membunuh semua bocah mungil itu

Dengan mata mereka tetap terbuka

Tak ada yang bisa menolong mereka

Di hari kematiannya

Tak ada ranjang tempat bersembunyi di kolongnya

Tak ada lemari tempat bersembunyi di dalamnya

Oh mereka membunuh semua bocah mungil itu

Dengan mata mereka terbuka lebar

Mereka (Para Malaikat) akan mengangkat bocah-bocah mungil itu

Tanpa dosa yang tertulis

Di dalam cahaya langit yang tinggi

Mereka akan duduk di singgasana-singgasana tinggi

Di mana waktu bermain adalah selamanya

Dan rahmat Ilahi tiada henti

Mereka akan mengangkat bocah-bocah mungil itu

Dan mereka semua akan jadi teman-teman baiknya

Mereka akan mengangkat bocah-bocah mungil itu

Dan mereka semua akan jadi teman-teman baiknya

Aneh, kalimat-kalimat itu kini cocok lagi dengan hari-hari ini.

Banyak lagu Anda bertema anak-anak, apakah itu karena ingatan masa kanak-kanak di tempat yang sangat unik, yang sering Anda sebut kurang baik?

Ya. Saya rasa, karena dibesarkan di tengah kawasan West End (salah satu bagian jantung kota London) yang penuh sesak oleh teater, café, bar, British Museum, dan bioskop-bioskop telah menciptakan atmosfir yang sangat khusus untuk membesarkan saya. Saya pertama kali bersekolah di Drury Lane, yang menariknya, merupakan sebuah sekolah Katolik Roma yang sangat berdisiplin. Inilah anomali pertama dalam kehidupan saya, karena saya sebenarnya beragama Kristen Yunani Ortodoks jadi sebenarnya saya tak bisa ikut serta dalam banyak kegiatan keagamaan di sekolah.

Mereka mengajarkan saya tentang Yesus, budi pekerti umum saja. Tapi saat saya melihat dunia di sekitar saya, di kawasan itu, sangat sedikit budi pekerti itu bisa ditemukan. Jadi saya harus menghadapi berbagai paradoks dalam kehidupan sehari-hari saya. Saya seorang anak kecil dan sebagaimana kebanyakan anak, saya juga memiliki harapan besar dan banyak imajinasi.

Pada akhirnya, sepertinya berbagai imajinasi yang tak kesampaian itu lahir dalam karya-karya dan ekspresi saya; bagaimana saya melihat dunia dan bagaimana saya hidup di dalamnya; bagaimana saya merekamnya dalam kata-kata, dan akhirnya membawa saya untuk bekerja bagi kepentingan anak-anak. Karena sekarang ini saya terlibat sangat intensif di bidang pendidikan. Saya mencintai anak-anak, saya senang sekali bersama meraka dan saya menyelenggarakan sekolah-sekolah untuk mereka.

Dulu Anda sangat terkenal, dan lalu karena gaya hidup yang Anda jalani Anda sakit parah. Nampaknya sesudah itu Anda b
erubah ya?

Itu benar, tadinya saya tak begitu menyadari apa yang terjadi pada diri saya. Waktu itu saya menjalani kehidupan yang sangat cepat, kehidupan bintang musik pop, kehidupan jetset yang gemerlapan, dan sangat menikmatinya. Tapi di lain sisi saya bekerja sangat keras. Hidup saya jelas tidak normal; bekerja sampai larut malam terus-menerus, terkadang ada dua sampai tiga show dalam semalam. Saya minum (minuman keras), merokok, dan begitulah seterusnya. Tapi tentu saja saya harus membayar gaya hidup seperti itu yang akhirnya muncul dalam bentuk sakit; saya kena TBC, yang tergolong aneh karena ini kan abad ke-20, yang konon sudah terbebas dari penyakit itu. Saya kemudian tersadarkan, dan memikirkan kembali tentang makna hidup saya dan kemana saya menuju. Itu sebuah perubahan besar yang memberikan saya ruang dan waktu untuk merenung. Hal seperti itu sangat berharga karena kadang kita tak punya kesempatan; kita selalu dalam pusaran kesibukan yang tak habis-habis, kadang kita butuh berhenti untuk merenung.

Kabarnya Anda sempat melakukan perjalanan spiritual sebelum menemukan Islam?

Sesudah sakit parah dan lama dirawat di sebuah rumah sakit di Essex, sebelah timur London, saya kemudian banyak mempelajari spiritualitas Timur. Budha, Hindu, I Chi, Zen, apa saja. Saya juga sempat menengok kembali akar diri saya yaitu Yunani kuno. Saya tetap tidak puas. Tetap ada saja keraguan-keraguan. Seorang wanita dari Australia mengenalkan saya pada sufisme Jalaludin Rumi, saya sangat terkesan, tapi tetap tidak saya temukan apa yang saya cari.

Suatu hari saya mengalami kecelakaan yang mengerikan, yang nampaknya merupakan titik balik penting dalam hidup saya, meskipun waktu itu saya belum menyadarinya. Saya waktu itu berada di pantai Malibu, di kawasan Los Angeles, Amerika Serikat, di mana banyak miliuner bertempat tinggal. Waktu itu saya berada di rumah manajer rekaman saya, Jerry Moss. Saya memutuskan untuk berenang hari itu, saya tak tahu bahwa hari itu merupakan hari yang berbahaya untuk berenang karena musim ombak yang sangat besar.

Pendeknya, saya terseret sebuah arus yang membuat saya tenggelam. Dalam beberapa detik berikutnya saya sadar tak ada yang bisa menolong saya, dan saya berteriak keras-keras, “Tuhan, kalau Engkau selamatkan aku, aku akan bekerja untuk-Mu!” Pada saat itu juga sebuah ombak mendorong saya dari belakang menuju pantai. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada saya berenang, dan akhirnya selamat, saya tetap hidup. Luar biasa.

Waktu itu saya yakin benar Tuhan itu ada. Tapi seperti biasa, manusia selalu melupakan janji-janjinya begitu dia sudah selamat. Tapi Tuhan tidak pernah lupa pada janji seperti itu.

Lalu sejak kapan Islam memberi kesan yang dalam?

Nah, tak lama sesudah itu Islam datang kepada saya, lewat abang saya, David. Dia melakukan perjalanan ke Jerusalem tahun 1976. Ia sangat terkesan pada cara Muslimin beribadah di sekitar al-Aqsha, sangat khusyu’, tenang, tanpa patung, tanpa gambar apa-apa. Saat pulang ke London ia menemukan al-Qur’an di sebuah toko buku. Ia lalu membelikannya untuk saya, karena tahu saya sedang dalam masa ‘pencarian’.

Saya menghabiskan waktu satu tahun untuk membaca Qur’an sampai habis, sebelum memutuskan untuk memeluk Islam. Yang awalnya berat bagi saya adalah untuk tetap bersikap netral terhadap Islam: karena saya sudah dicekoki banyak citra yang negatif sebelumnya. Ayah saya adalah seorang Yunani-Cypriot, dan karenanya semua yang berkaitan dengan Islam dan ‘Turki’ adalah tabu; mereka adalah musuh bebuyutan kami. Jadi saya bilang pada diri sendiri, ayolah ini hanya sebuah buku, tak akan melukaimu.

Saya mulai membaca Qur’an dan hal pertama yang saya pelajari adalah nama Tuhan. Dimulai dengan:

“..Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan alam semesta…”

Ini sangat mengejutkan bagi saya, karena saya tak pernah tahu sebelumnya bahwa Muslim itu percaya pada Tuhan! Saya mengira mereka menyembah Muhammad.

Semakin banyak yang saya baca dari Qur’an, semakin ia membuat saya terkagum-kagum.

Lalu apa lagi yang Anda dapatkan dari al-Qur’an?

Yang pertama dan utama ia berbicara tentang iman kepada Allah yang Ahad bagi semua manusia, dan berbicara tentang ummat manusia sebagai sebuah keluarga. Ada juga ayat-ayat yang berbicara tentang para Nabi yang bersaudara yang telah menyampaikan pesan yang sama tentang satunya ummat manusia, berusaha mengajak manusia kembali ke jalan yang benar. Saya melihat nama-nama Yesus, Moses, Abraham, Jacob, Noah, dan yang terpenting adalah utusan terakhir Muhammad Shalallaahu ‘alaihi wa sallam. Semua mereka disebut oleh al-Qur’an dengan penghormatan yang sama sebagai nabi utusan Allah yang esa. Salah satu ayat itu berbunyi begini:

“Wahai manusia sembahlah Tuhan yang menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu, supaya kamu beriman kepada-Nya.”

Seumur hidup saya belum pernah mendengar yang seperti ini. Semuanya lalu berkembang begitu cepat melebihi yang mampu saya antisipasi. Bahkan saat itu saya seperti dihadapkan pada sesuatu yang sama sekali di luar dugaan saya, yaitu Kebenaran.

Apakah tidak ada sedikitpun juga penolakan di hati Anda?

Ya, saya waktu itu mulai merasa tertantang. Lalu saya mulai mencari-cari kesalahan di buku ini. Ah, masak sih nggak ada yang salah sedikitpun, pasti ada satu dua yang tidak beres. Saya bilang pada diri sendiri, ini terlalu bagus, terlalu sempurna. Semakin saya membaca, semakin tak bisa saya melepaskannya. Saya seperti diserap oleh al-Qur’an.

Yang paling mengesankan saya adalah surat Yusuf, kisahnya sangat mirip dengan yang ada di Bibel. Saat saya menyelesaikan surat itu, tiba-tiba hati saya seperti terbuka dan air mata saya meleleh tak henti-hentinya. Saya yakin buku ini tidak mungkin bisa ditulis o
leh seorang manusia. Ini pasti benar-benar sebuah Wahyu. Sejak saat itu saya sadar tak ada lagi yang bisa dilakukan selain saya harus menjadi seorang Muslim.

Akhirnya saya bertemu dengan seorang Muslimah yang memberitahu saya bahwa ada sebuah masjid yang baru diresmikan di Regent’s Park. Padahal sepanjang hidup saya selalu melewati taman itu dan bertahun-tahun yang saya lihat hanya pepohonan, semak belukar, dan padang rumput. Kini, di sela pepohonan hijau itu saya melihat kubah keemasan yang belum pernah ada di situ sebelumnya.

Di sebuah hari di musim dingin tahun 1977 saya mengambil langkah dramatis dalam hidup saya, saya berjalan kaki ke masjid itu untuk menyatakan keyakinan saya. Saya mengatakan: “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah abdi dan utusan-Nya.”

Bagaimana dengan keluarga Anda, apa reaksi mereka atas keIslaman Anda?

Saya sadar bahwa langkah ini akan memberi dampak yang besar bagi keluarga saya, teman-teman, dan masyarakat. Tapi yang paling penting dari momen itu bukanlah apa yang dipikirkan orang. Langkah ini seperti kembali ke fitrah Anda yang terdalam. Jika Anda mendengarkan suara kesadaran Anda, maka Anda akan tahu kemana dan kapan Anda harus pergi. Untuk waktu yang sangat lama saya selalu melakukan hal-hal yang dikatakan dan diharapkan orang. Sejak saat itu, saya tahu bahwa saya harus mendengarkan suara kesadaran saya, dan saya yakin hanya suara Allah yang harus ditaati dan diikuti. Itulah titik balik yang paling penting.

Album ‘Back to Earth’ di paruh akhir 70-an tidak terlalu baik pemasarannya. Agaknya sejak itu popularitas Anda menurun. Apakah itu disebabkan kehidupan Anda yang baru (sebagai Muslim)?

Ya. Perubahan terbesar dalam hidup saya memang terjadi di sekitar waktu pembuatan album itu ­dan itulah saat saya menemukan Islam. Waktu itu saya menerima hadiah berupa Qur’an. Saya mulai membaca kitab yang sebelumnya bahkan belum pernah terpikirkan oleh saya; dan sesudah pengalaman itu saya mulai berubah. Pada saat yang sama saya masih hidup sebagai seorang penyanyi, kelayapan, tur pentas besar-besaran di Amerika, dan sebagainya, dan saat saya masuk ke kamar hotel sendirian saya membaca Qur’an. Jadi ada dua kehidupan. Pelan-pelan, yang kemudian lebih banyak mempengaruhi saya adalah kehidupan dengan Qur’an itu. Itulah motivasi yang selama ini saya cari-cari agar bisa meninggalkan kehidupan yang sebenarnya sudah tak menarik lagi. Meskipun saya masih mencintai musik dan semua hal yang indah, saya waktu itu memutuskan untuk berhenti “bernyanyi” tentang kehidupan yang baik, dan memulai untuk sungguh-sungguh “menjalani” kehidupan yang baik itu. Saya tak mau lagi jadi idola, dan mulai menjadi manusia biasa: naik bis dan melakukan hal-hal yang sederhana. Dan benar-benar kembali ke wujud saya semula, seorang anak dengan harapan-harapan yang menjulang tinggi di dunia yang indah, di ‘kehidupan yang baik’ tapi dengan pengetahuan yang jelas tentang apa yang harus dilakukan dan bagaimana mencapainya.

Sesudah ‘fase’ Cat Stevens, saya menjadi lebih mengenal Tuhan ­pada titik itu. Saat saya menjadi seorang Muslim saya membutuhkan sebuah nama baru. Surat dalam al-Qur’an yang paling saya sukai adalah surat Yusuf. Saya suka nama itu, dan jadilah itu nama saya.

Oo, jadi begitu rupanya. Berarti itu nama Anda yang ketiga kan (pertama nama kecilnya, kedua nama panggungnya Cat Stevens, ketiga Yusuf Islam). Apa nanti akan berubah lagi?

Oh! Sekarang nama saya ‘Abu Muhammad’, yang artinya ayah dari Muhammad, karena saya punya anak lelaki bernama Muhammad. No problem. Kita bisa punya banyak nama, dan tetap pada akhirnya untuk mencari kehidupan yang baik yang abadi.

Bagaimana rasanya menjadi profil seorang Muslim berkebangsaan Inggris yang paling dikenal masyarakat, apakah itu mengkhawatirkan atau justeru membuat bahagia?

Well, itu sama sekali tidak disengaja. Waktu saya memeluk Islam, sebenarnya saya pun sudah bersiap untuk jadi orang biasa, yang jadi orang yang ‘Back to Earth’ lah seperti judul album saya itu. Tapi orang cenderung tetap tertarik pada apa yang saya katakan. Dari sudut pandang itu, saya tak bisa untuk tidak mengomentari sesuatu yang saya anggap penting. Orang mungkin mendengarkan, dan ya itu bagus juga, jadi saya teruskan saja.·